Jamu : Sebuah Filosofi dan Representasi Budaya

Media SPN.— Tercipta dari sebuah karya rasa yang memiliki nilai kulinasi hebat, berasal dari formula xdengangubahan ramuan-ramuan khas nusantara, dan dinikmati dalam secangkir kehangatan Rasa Indonesia.

Ya, itulah Jamu.

Minuman khas nusantara ini telah dikenal sejak zaman Majapahit berdiri. Pada zaman Majapahit, jamu merupakan minuman kebesaran raja sekaligus menjadi trendsetter bagi para pembesar dan mitra kerajaan di luar Majapahit. Tradisi minum jamu ini dimulai dari Brawijaya ke III yang kemudian diteruskan oleh cucunya Brawijaya ke V.

Di akhir periode Majapahit, Raden Fatah (Pendiri Kerajaan Demak Bintoro), penerus trah Brawijaya V, mulai mempomosikan jamu sebagai ilmu sekaligus tatanan sakral kehidupan keraton yang sampai saat ini masih ada dalam rangkuman Buku “Kawruh Jampi” di Jogjakarta dan Surakarta. Promosi ini membawa jamu tidak hanya dikenal sebagai minuman kebesaran raja saja, namun juga merambah ke kalangan masyarakat bawah. Pada era pra Majapahit, istilah pengobatan tradisional juga telah dikenal dan diilmiahkan oleh masyarakat kerajaan Mataram Kuno (772 M) dan ini tercermin dalam salah satu relief “husada” di Candi Borobudur. Ketika Belanda masuk ke Indonesia, berbagai observasi telah dilakukan ilmuwan-ilmuwan negeri kincir angin ini untuk membuktikan khasiat dari sebuah jamu. Tak disangka, hasil temuan-temuan tersebut membuktikan bahwa satu jenis ramuan jamu memiliki berbagai khasiat yang kompleks yakni telah memiliki antibiotik alami, stabilisator sistem pencernaan, dan yang paling penting adalah memiliki sifat memulihkan/mengobati kondisi tubuh yang kurang baik.

Siapa tak kenal dengan istilah “Jamu Gendong”?

Dari namanya, kita sudah dapat membayangkan dengan sosok ibu-ibu mengenakan jarit dan kebaya disertai menggendong bakul berisi 6-8 botol-botol jamu. Diambil dari namanya “gendong” yang berasal dari bahasa jawa, tradisi ini meruapakan runtutan kisah dari Kerajaan Demak, seperti yang kita ulas di atas. Mataram Islam, salah satu Kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa, merupakan cikal bakal lahirnyajamu gendong.

Dengan basis wilayah di seluruh Pulau Jawa, Bali, sebagian Sumatra dan mitra kerajaan lain di luar jawa, membuat sebuah keseragaman konsep dan titi tata laksana jamu di Indonesia.

Berawal dari titah Sultan Agung untuk menyebarkan doktrin Negara Agung ke seluruh penjuru Nusantara, menjadikan jamu sebagai media aplikatif dan efektif bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Stigma jamu tidak lagi dijadikan sebagai minuman kebesaran, namun sebuah minuman kebersaaman dalam lokalitas budaya Jawa.

Sebagai intisari dalam penyampaian konsep itu, para pedagang jamu gendong selalu membawa jamu dalam jumlah 8 jenis. Ini merupakan representasi konsep 8 arah mata angin sekaligus salah satu lambang surya Majapahit ri Wilwatikta.

Diharapkan melalui media jamu yang mengakar pada jati diri masyarakat, Bangsa Indonesia dapat mencapai puncak kejayaan seperti pada zaman Majapahit tanpa terhalang segala macam marabahaya. Delapan jenis jamu tersebut antara lain Kunir Asam, Beras Kencur, Cabe Puyang, Pahitan, Kunci Suruh, Kudu Laos, Uyup-Uyup/Gepyokan, dan Sinom. Kedelapan jenis jamu ini merupakan urutanideal dalam meminum jamu dimulai dari manis-asam, sedikit pedas-hangat, pedas, pahit, tawar, hingga manis kembali. dari urutan-urutan ini kita bisa ambil nilai filosofis sebenarnya apabila dikaitkan dalam hidup.

Manusia lahir di muka bumi dalam keadaan fitrah.

Silogisme ini bisa diandaikan dengan keadaan “manis” sewaktu bayi. Manis merupakan sebagian rasa yang kita alami semasa bayi dan balita. Kata “kunir” di atas, diambil dari representasi warna kulit orang-orang Indonesia berasal (sawo matang-semu kuning), tempat Jamu dilahirkan. “Asam” kondisi dimana kita mulai beranjak remaja,umur 11-15 tahun, dimana kita mulai melihat samar-samar keadaan hidup sebenarnya.

Beralih ke fase selanjutnya yakni Pra-Dewasa yang difilosofikan dengan jamu Beras Kencur. “Beras Kencur” apabiladibedah kata inimenjadi “Bebering Alas Tan Kena Diukur” atau Luasnya ‘Dunia’ belum bisa dikira-kira. Ya, inilah fase dimana kita mulai masuk ke gerbang kedewasaan. Rasa ingin tahu yang besar sikap egoisme yang mulai muncul kadang kala membuat seseorang mencoba hal-hal baru tanpa dipikirkan efek baik dan buruknya. Beras Kencur memiliki rasa sedikit pedas yang menggambarkan bahwa kita baru mencicipi sedikit saja rasa/hawa dunia sebenarnya.

Cabe Puyang…,Cacating Lambe Purnaning Sembahyang.

Itulah istilah yang tepat menggambarkan sikap labil kita pada umur19-21 tahun. Suatu fase dimana kita harus lebih banyak menata diri dan bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan. Berusaha konsisten akan visi yang akan kita capai, bukan bersikap plin-plan(pagi beriman, sorenya kafir). Rasa pedasnya dunia sudah mulai kita rasakan seperti pedas dan pahitnya jamu ini.

Pahitan, namanya sesuai rasanya. Tidak ada nama khusus untuk jamu yang satu ini karena bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari brotowali, widoro, doro putih sampai babakan pule. Ya, inilah masa-masa klimaks kita dalam menghadapi kehidupan sebenarnya. Berbekal pendidikan budi pekerti yang telah kita resapi sejak balita, ditunjang dengan rasa keingintahuan yang besar di masa remaja, membuat kita semakin kuat dan survive dalam menghadapi hidup yang sebenarnya.

Setelah melewati fase klimaks itu, kita akan menemui suatu perjalanan hidup yang landai sebagai sebuah resolusi hidup.

Di fase ini lah kita akan menikmati masa keemasan hidup kita. Berkisar antara umur30-45 tahun, kita akan memiliki pasangan hidup, meraih semua angan-angan yang pernah terpendam, dan berusaha lebih berarti bagi lingkungan masyarakat sekitar.

Inilah filosofi dari sebuah jamu yang bernama “Kunci Suruh”.

Kunci merupakan sebuah bumbu penyedap makanan, sedangkan suruhmemiliki banyak khasiat dan penyembuh berbagai macam penyakit.Jadi dapat dilambangkan bahwa kesuksesan hidup kita saat itu didasarkan pada apa yang kita peroleh semenjak kecil.

Dalam melanjutkan perjalanan resolusi kita ini, ada tugas-tugas kecil yang harus kita kerjakan yakni menjalin hubungan sinergis dengan seluruh pihak yang telah berjasa dalam hidup kita. dalam masa inilah kadang kala kita sering merasa lupa dan kurang bersyukur akan rizqi yang telah kita peroleh. Sudah sepatutnya kita mulai berderma, menyumbangkan segala yang kita punya dan kita mampu pada orang yang benar-benar membutuhkan disekitr kita. Inilah filosofiKudu Laos.

Sebuah jamu penghangat, yang mampu menghidupkan rasa kekeluargaan bagi orang-orang yang membutuhkan.

Uyup-uyup/gepyokan merupakan sebuah jamu penetral sekaligus bersifat rehabilitatif bagi seseorang yang telah sembuh dari penyakit berat. Bersifat mendinginkan adalah karakter jamu ini. Melalui pengabdian diri seutuhnya dan kepasrahan tulus dari seorang hamba kepada Tuhannya merupakan representasi nyata kehidupan seseorang sebelum memasuki tahap baru, tahap alam non fana, dan semuanya tergambar dalam aroma khas jamu ini, yakni aroma tawar sedikit manis.

Inilah konklusi dari siklus hidup kita,Sinom yang dapat diartikan SIREP TANPA NAMPA. Dalam Bahasa Indonesia maknanya adalahdiam (tidur/meninggal/moksa) dengan tidak meminta apa-apa. Jamu dengan rasamanis ini menggambarkan bahwa awal danakhir dari sebuah siklus harus dijalankan secara seimbang. Apabila di awal kita dilahirkan secara fitrah, maka di akhir kita harus kembali seutuhnya dalam keadaan baik tanpa merepotkan siapapun.

Tuntas sudah perjalanan hidup seseorang yang tergambar jelas dalam sebuah manifestasi tradisi. Semuanya telah didesain oleh Dia, Yang Maha Dahsyat, dan semua terangkum dalam titi tata laksana budaya. Inilah salah satu dari beribu lembaran-lembaran budaya yang terhampar dari ujung ke ujung Nusantara.

Sebuah tradisi yang melekat pada jati diri warga bangsa dengan balutan Filosofi dan Representasi Budaya.(Pais)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan