Aksara Kuno Saksi Kejayaan Nusantara

Media SPN,  — Indonesia memang memiliki daftar sejarah yang panjang. Bukan hanya sebagai sejarah pergerakan kemerdekaan, namun juga sejarah perkembangan peradabannya. Ada masa pra sejarah ada juga masa pra sejarah. Begitupula masa pra aksara dan masa aksara. Tentunya bukan menjadi perjalanan yang singkat untuk mencapai peradaban seperti ini.

Bicara soal masa aksara yaitu masa di mana orang-orang sudah mengenal tulisan, perkembangan aksara di Indonesia juga tidak bisa dibilang singkat. Penggunaan aksara Latin seperti sekarang tidak dilakukan sejak zaman awal masehi lalu. Buktinya dalam beberapa prasasti sebagai bukti sejarah, pesan yang ditulis bukan menggunakan bahasa Latin melainkan menggunakan aksara kuno.

Kali ini media SPN mau membahas mengenai beberapa aksara kuno di Nusantara yang sekarang keberadaannya sudah langka bahkan di ambang kepunahan. Penasaran aksara-aksara apa aja? Yuk langsung aja simak ulasannya di bawah ini.

1. Aksara Pallawa

Aksara Pallawa atau yang biasanya ditulis sebagai aksara Pallava. Aksara ini berasal dari India Selatan. Aksara ini dinamakan sebagai aksara Pallawa karena berasal dari Dinasti Pallava yang berkuasa di India Selatan antara abad ke-4 hingga abad ke-9. Aksara ini cukup bersejarah bagi perkembangan aksara di Indonesia. Pasalnya aksara ini merupakan akar dari aksara-aksara yang berkembang di Indonesia. Gak heran kalau di berbagai prasasti di Indonesia, menggunakan huruf Pallawa ini.

Sebut saja seperti Prasasti Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-5. Selain itu aksara Pallawa juga digunakan di Prasasti Tarumanegara yang berasal dari pertengahan abad ke-5. Prasasti-prasasti inilah yang menjadi bukti penggunaan aksara Pallawa sebagai cikal bakal perkembangan aksara di Nusantara.

2. Aksara Kawi

Aksara Kawi merupakan aksara Brahmi historis yang digunakan di wilayah Asia Tenggara dari abad ke-8 hingga abad ke-16 masehi. Aksara ini terutama digunakan di wilayah Jawa dan Bali. Namun aksara ini pernah ditemukan hingga wilayah Filipina.

Aksara Kawi ini memang diperuntukkan untuk menulis Bahasa Jawa kuno dan Sansekerta. Aksara inilah yang menjadi induk dari aksara-aksara kuno di Nusantara seperti Aksara Jawa dan Bali. Diketahui ada 47 huruf dalam aksara Kawi. Namun dalam penggunaannya tidak dapat diketahui secara pasti karena hanya ditemukan sedikit sekali prasasti yang bertuliskan aksara Kawi.

3. Aksara Jawa

Mungkin kita lebih familiar dengan aksara Hanacaraka. Aksara ini digunakan dalam penulisan bahasa Jawa dan beberapa bahasa lainnya. Aksara Jawa ini masih memiliki kekerabatan dengan aksara Bali. Aksara ini awalnya memang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Hingga akhirnya Belanda memperkenalkan huruf Latin di abad ke-19.

Aksara Jawa dan Bali ini merupakan perkembangan dari aksara Kawi, yang merupakan salah satu turunan aksara Brahmi di Jawa. Aksara ini digunakan pada periode Hindu-Buddha dalam hal literatur keagamaan dan terjemahan Sansekerta yang ditulis pada daun lontar.

4. Aksara Bali

Aksara Bali menjadi salah satu aksara kuno yang pernah berkembang di Nusantara, terutama di Pulau Bali. Aksara ini memang digunakan untuk menulis Bahasa Bali dan Sansekerta. Sebenarnya aksara ini masih memiliki kekerabatan dengan aksara Jawa.

Aksara Bali terdapat 47 huruf. Uniknya, Bahasa Bali dapat ditulis dengan 18 huruf konsonan dan hanya 7 huruf vokal. Beda halnya dengan Bahasa Sansekerta harus menggunakan keseluruhan set huruf.

5. Aksara Sasak

Aksara Sasak ini banyak digunakan oleh masyarakat Suku Sasak yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam aksara Sasak, terdapat 4 bagian yaitu Carakan, Rekan, Swalalita dan Wyanjana. Aksara Sasak ini memang memiliki banyak kesamaan seperti Aksara Jawa dan Bali.

6. Aksara Lontara

Aksara Lontara merupakan salah satu aksara kuno lainnya yang berasal dari masyarakat Bugis Makassar. Aksara ini biasanya digunakan untuk menulis literatur mengenai tata pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah-naskah beraksara Lontara ini biasanya ditulis di badan daun lontar dengan menggunakan lidi atau kalam.

Aksara ini juga pernah digunakan untuk menulis berbagai dokumen seperti hukum perdagangan, peta, surat perjanjian dan buku harian. Aksara yang memiliki 23 konsonan ini masih bisa didapatkan di beberapa lingkup kecil masyarakat Bugis. Biasanya aksara ini masih bisa ditemukan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan. Beda dengan di Makassar, aksara ini masih sering disisipkan dalam dokumen pribadi dan tanda tangan.

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan