300 pasukan Brimob dikirim ke Papua

Jakarta, — Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut pihaknya telah mengirim 300 personel Brimob ke Deiyai dan Paniai, Papua. Itu dilakukan untuk mengamankan daerah setelah terjadi kerusuhan yang menyebabkan tewasnya anggota TNI dan pihak penyerang.
“Kita sudah kirim pasukan. Kalau tidak salah 300 orang menuju Deiyai dan Paniai,” kata Tito di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (29/8).
Tak hanya dua daerah itu, Tito juga mengaku mengirim anak buahnya ke Jayapura untuk menjaga situasi dan kondisi di kota itu. Dia berharap kerusuhan dan kontak senjata yang memakan korban tidak kembali terjadi.
“Selain itu juga Jayapura sudah saya kirim pasukan dari Brimob untuk jaga situasi di sana,” kata Tito.

Saya berharap peristiswa seperti ini tidak terulang lagi. Hukum kita tegakan, yang salah akan kita proses,” lanjutnya.

Sebelumnya, kerusuhan terjadi di tengah aksi massa demonstrasi antirasialisme di Deiyai, Papua, Rabu (28/8).

Kapolda Papua Inspektur Jenderal Rudolf Rodja mengatakan insiden yang berakhir kerusuhan Deiyai itu berawal dari demo yang dilakukan sekitar 100 orang. Mereka mulanya berunjuk rasa di halaman kantor bupati.

Namun tiba-tiba datang sekitar seribuan orang yang berlari-lari kecil dan sebagian di antara menyerang aparat keamanan. Walhasil, aksi menjadi ricuh.

Kepala Bidang Penerangan Umum Puspen TNI, Kolonel Sus Taibur Rahman mengatakan aksi massa yang diikuti 100 orang dan berlangsung pada pukul 13.00 WIT itu mulanya berlangsung aman. Aparat TNI dan Polri turut berjaga di sana.

Namun, satu jam kemudian, situasi mendadak berubah ketika ada massa yang datang sambil meneriakkan ‘Papua Merdeka’ dan mengibarkan Bendera Bintang Kejora.
“Tiba-tiba berubah saat munculnya ribuan orang sambil meneriakkan Papua Merdeka, mengibarkan Bendera Bintang Kejora dengan bersenjata panah dan parang serta batu,” kata Taibur Rahman dalam keterangan, Kamis (29/8).
“Massa bertindak brutal dan membabi buta melakukan penyerangan pelemparan batu dan anak panah ke arah aparat keamanan dan Kantor Bupati,” lanjutnya.
Taibur mengklaim aksi yang tak bisa dikendalikan itu membuat seorang personel TNI meninggal dunia akibat anak panah, bacokan dan lemparan batu. Selain itu, dua personel TNI dan tiga polisi pun dikabarkan luka-luka.
Sementara dari warga sipil terdapat dua korban meninggal. Satu orang meninggal dunia akibat luka panah dan seorang lainnya akibat luka tembak di kaki.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan